Selasa, 02 September 2014

Cerpen "Hadiah Itu Nyata"

HADIAH ITU NYATA

Hari-hari menegangkan akan segera berakhir. Benar juga begitu bel berderng ‘tet...tet...tet’ murid yang berseragam putih abu-abu itu berhamburan bersorak-sorai. Tampak di depan kelas Rony mengambil tasnya. Sebentar kemudian, Bagas menghampiri, “Apa yang akan kamu lakukan kemudian sobat?” Bagas menepuk bahu Rony. “Eh, kamu. Tahulah nanti, yang penting ujian telah selesai. Nikmati dululah...” Rony berujar. “Kalau begitu, aku nitip info ya... sobat. Aku mau pulang kampung dulu sambil menunggu pengumuman lulus. “Salam buat ibumu. Jangan lupa dodolnya”, gurau Rony.
Begitulah, ia melepas sahabatnya itu. Rony sekarang sibuk dengan laptop di kamarnya. Sesekali, makanan ringan itu menggoyang lidahnya. “Rony... mandi, sarapan!”, teriak mama. “Lagi nanggung, nih...!”, jawab Rony. Rony masih meneruskan kesibukannya. Jarinya lincah menyentuh keyboard. Matanya masih melototi layar. Kali ini, terdengar suara langkah. Kemudian ‘tok...tok...tok’. Ditambah terdengar, “Rony buka pintu”. Suara itu bukan suara ibu. Pintu langsung terbuka. “Cepat saya tunggu sarapan!”, pinta ayah. Kali ini Rony tidak bisa melengak. Cepat-cepat disambar handuknya dan mandi. Mama dan Papa menunggu di meja makan. “Maaf, pa...ma... jadi lama menunggu”, ujar Rony. “Habiskan makanan itu. Nanti, ikut ke kantor papa”, kata papa. “Ke kantor? Aku bukan karyawan papa”, jawab Rony. “Sudahlah, nanti kamu tahu”, papa bekata lagi. “Ayo, sayangku. Biar tahu dunia kerja begitu”, tambah mama. “Aku belum mau kerja lho...Pa...Ma...”, tukas Rony. “Iya... tidak ada yang suruh kerja, Cuma main-main”, tambah mama.
Demi memuaskan Papa Mama, Rony beranjak dari kursi makan menuju mobil. Dalam perjalanan Rony duduk berdampingan dengan papanya. Tapi mulut ini Cuma membisu. Tak lama, pintu mobil sudah dibukakan. Ucapan selamat pagi menyapa telinga Rony. Siapa yang menyapa Rony pun tak tahu. “Besok ini tempatmu”, kata Papa. Rony tak menghiraukan perkataan itu. Perhatiannya, justru teryuju pada benda kecil di sakunya. Ternyata, Sahabatnya, Bagus, mengabari untuk mengambil dodol pesanannya. Ruang AC, mobil mewah ia tinggalkan begitu saja. Justru dengan angkot, Rony meluncur ke rumah Bagus. “Gus... aku datang!”, teriak Rony. “Eh... nak Rony. Masuklah, Bagus sedang di kamarnya”, kata ibu Bagus. “Ibu, ikut juga ke sini?”, tanya Rony. “Kan... katanya sudah mau lulus!”, sahut ibu. Muncullah Bagus dari kamar. “Bagaimana sobat sudah siap mental untuk esok hari?”, tanya Bagus. “Aku sih... optimis!”, jawab Rony. “Siplah... aku juga optimis bisa lulus.” Bagus tak kalah semangat dengan sahabatnya. Senyum mereka menandakan kebahagiaan bersama.
Keesokan paginya, Rony dan Bagus bertemu kembali di sekolah. Mereka akan mendapat selembar kertas sakti yang sangat berpengaruh nantinya dalam kehidupan. Betul, surat keterangan lulus. Tak lupa orang tua masing-masing juga ikut. “Gus, kamu dapat hadiah apa dari ibumu?”, tanya papa. “Saya minta disekolahkan saja, Pak”, jawab Bagus. “Selamat ya... nak”, tambah mama.
Siang yang ricuh pun berlalu. Kini malam datang menjemput. Makan malam telah disiapkan Bi Irah. Ada kepala manyun berkuah santan kesukaan Papa. Cumi panggang, ayam bakar juga tersedia. Untungnya mama masih sempat memasak tempe bacem. Di meja makan itu pula papa mengutarakan isi hatinya. Papa menyuruh Rony untuk mau menekuni ilmu manajemen di luar negeri. Alasannya rony anak satu-satunya yang kelak menjadi pewaris perusahaan papa. Dengan cepat Rony menjawab, “Aku tidak mau, Papa”. “Sudah lama dibenakku ingin menjadi arsitek!”, jawab Rony. “Ada benarnya, Ron. Cobalah kamu turuti keinginan papa, kalau kamu menuruti kata papamu, pasti pintamu akan dituruti pula”, timpal mama.
Dengan berat hati, Rony menuruti kemauan orang tuanya. Ia turuti kemauan papanya karena permintaan yang akan diajukan. Untung, ketika Rony di negeri Paman Sam masih sempat berkomunikasi degan sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Bagus. Dialah yang memompa semangat Rony dari jauh. Dalam pesanya, Bagus berkata, “Lakoni saja hidupmu, tidak semua orang seberuntung kamu.”
Empat tahun sudah Rony menghabiskan waktunya di negri Paman Sam. Kini, Rony tak sabar ingin meninggalkan landas pacu pesawat. Lima menit lagi hidupnya akan berubah. Ia berharap tuntutannya terpenuhi setelah permintaan ayah sudah dipenuhinya.
Rony telah sampai di depan rumahnya. Heran dalam pikirnya karena rumah sepi. Tak ada acara sambutan. Bel rumah dipencetnya. Muncul pertama Bi Irah, orang yang sejak kecil mengasuhnya. Bi Irah berteriak, “Nyonya, mas Rony sudah pulang!”. Tak lama muncullah mama. Tangan halusnya, memeluk Rony. Di pundak Rony menetes air mata mama. Haru campur bangga perasaan mama. “Papa... papa mana? Hadiahku mana?”, ujar Rony sepert anak kecil. Tak sabar Rony mencari papa. Terkejutlah dia. Papa yang dulu gagah ternyata terbaring lemas tak berdaya di tempat tidur. Lirih ia bicara. Tak lama tangannya diulurkannya, ia memberikan kotak ukir kepada Rony. Seakan harus segera dibuka, Rony pun tak sabar. Mata Rony terbelalak, ternyata kotak ukir itu hanya berisi kitab suci. Rony kecewa karena jerih payahnya, pengorbanannya hanya dibalas dengan kitab suci. Benda murah yang ia tebus sampai bertahun-tahun. Isi hati Rony hanya beisi kekecewaan yangmendalam.
Seketika itu Rony langsung pergi, tak hiraukan Papa Mama. Ia ingin menyenangkan hidupnya dengan cara sendiri. Rony memang pintar, mengembangkan daya pikirnya. Di kota seberang, ia telah memiliki usaha penginapan yang besar. Pegawainya sudah puluhan orang. Dalam sekejap ia lengkapi penginapan dengan restoran mewah dan kafe yang mewah. Dalam semalam mudah sekali puluhan juta rupiah ia kantongi.
Kini, Rony bangga dengan keberhasilannya. Kelak ia yakin, akan mengalahkan papanya. Rony mulai menikmati jerih payahnya. Silau dengan kekayaannya. Ia rambah dunia malam yang gemerlap. Lupa akan ibadah dan Tuhannya yang telah memberi segalanya.
Sementara itu, papa masih berjuang melawan sakitnya. Papa sangat merindukan anak semata wayangnya. Papa hanya bisa memandangi foto Rony yang terpajang di meja sudut kecil di samping ranjangnya. Sesekali Bagus justru yang mengunjungi papa. “Nak Bagus, cobalah kamu hubungi dan cari Rony”, pinta papa. “Akan saya usahakan, Pak!”, jawab Bagus.
Lewat sahabatnya pula, Bagus berusaha mencari Rony yang kini jadi pengusaha penginapan. Pertemuan itu bisa terjadi pula atas kehendak Yang Maha Kuasa. Tatkala Bagus bertemu dengan Rony, ternyata Rony dalam kondisi mabuk. “Rony, ingat aku?”, tanya Bagus. “Ingat dong... kamu Bagus anak ingusan itu toh... !”, jawab Rony. “Kekayaan telah membuat lupa dirimu”, ujar Rony. “Yang penting aku senang... senang”, kelakar Rony. “Rony, ayahmu sakit keras, pulanglah”, pinta Bagus. “Peduli amat dengan pembohong itu”, tukas Rony. “Aku akan kembali setelah kamu sadar.”
Bagus pulang dengan kecewa, ia hanya bisa mengelus dada melihat tingkah polah sahabatnya. Bagus hanya bisa bercerita kepada mama Rony.
Sementara itu, kondisi papa Rony semakin menghawatirkan. Kemarin baru pulang dari rumah sakit. Tiga hari di rumah, harus kembali dirawat di rumah sakit. Badan papa kurus mengering, mata cekung, dan nafas yang terengah-engah. Melihat kondisi papa seperti itu, Bagus berusaha menemui Rony kembali.
Rasa sayang seperti keluarga sendiri membuat Bagus bersemangat. Ia berdoa semoga Rony sudah tenang. Fajar baru saja menyingsing, motor tua itu malju ke kota seberang. Sebelum matahari tepat di atas kepala Bagus sudah bertemu Rony., sobat kamu datang lagi”, sapa Rony. “Iya, aku datang karena aku masih sayang kepadamu”, jawab Bagus. “Apa yang kau minta dariku?”, kata Rony. “Pulanglah, papamu ingin bertemu. Kondisinya semakin menghawatirkan. Hanya satu nama, anak tersayang yang selalu disebutnya”, pinta Bagus. “Rasakan pembalasanku pembohong”, ujar Rony. “Kamu benar-benar keterlaluan Rony”, kata Bagus. Bagus hendak menampar Rony. “Astagfirullahaladzim”, mulut Bagus masih bisa beristigfar.
Menjelang Isya kondisi papa Rony terus menurun. Mama terus menuntun agar mengagungkan Asma Allah. Terkadang papa sebut nama Rony disela-sela nafas berat. Jerit mama Rony memeahkan keheningan malam. Papa Rony sudah tenang menghadap Sang Kuasa tanpa sempat bertemu anak tercinta.
Satu hari kemudian, entah kabar dari mana. Ataukah tali batin yang masih ada Rony datang tergopoh-gopoh. Ia ingin pulang karena ingin kembali kepada Mama dan Papa. Ia kaya tapi tak punya kebahagiaan. Bahkan, sekarang ia menderita tak punya usaha dan kekayaan lagi. Rony terlambat, sang papa telah dmai dengan tidur panjangnya. Kini, ia hanya bisa memeluk pusara dan mendatangi tanah merah itu. Untunglah sang mama masih menerima Rony. “Kesinilah anakku. Papa berpesan supaya kotak ini tetap diberikan kepadamu”, kata mama. Kotak itu masih seperti dulu kala berisi kitab suci. Namun, ketika kitab suci itu dibuka ternyata di dalam kotak itu terdapat kunci. Ya.. betul kunci mobil mewah dan nota pengambilan di dealer mobil. Rony berteriak, “Aku salah Tuhan”, “Dia bukan pembohong... Tuhan. Hadiah itu nyata ada, ampuni aku, Tuhan”, teriak Rony. Begitulah penyesalan selalu datang kemudian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar